BrajaNews.com. Di sudut kota Madinah, hidup seorang lelaki yang nyaris tak pernah disebut dalam daftar manusia “berharga”. Namanya Julaibib.
Julaibib adalah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW dari kalangan Anshar yang dikenal memiliki fisik kurang menarik, miskin, dan tidak memiliki nasab terpandang, namun sangat bertakwa dan dicintai Rasulullah. Ia masyhur karena kisahnya sebagai prajurit perang yang dirindukan bidadari surga setelah gugur syahid.
Tubuhnya pendek, hartanya nihil, dan status sosialnya nyaris nol. Ia bukan siapa-siapa di mata manusia. Tak ada yang membanggakannya. Tak ada yang menginginkannya. Bahkan mungkin, sebagian merasa canggung hanya untuk duduk di dekatnya. Namun sejarah mencatat satu fakta yang mengguncang jiwa: Julaibib adalah lelaki yang dipeluk Rasulullah SAW saat wafatnya.
Julaibib bukan tokoh besar, bukan panglima, bukan saudagar kaya, bukan pula pemilik suara merdu yang dielu-elukan. Ia hanyalah seorang sahabat yang sering terpinggirkan oleh standar manusia. Dalam dunia yang memuliakan rupa, garis keturunan, dan harta, Julaibib hadir sebagai antitesis. Ia adalah potret manusia yang gagal memenuhi kriteria sosial, tetapi lulus dengan gemilang di hadapan Allah.
Tak banyak riwayat yang menggambarkan masa kecilnya. Justru di situlah letak kesepiannya. Ia hidup tanpa silsilah yang jelas. Dalam masyarakat Arab yang menjunjung tinggi nasab, itu adalah “cacat sosial” yang berat. Julaibib tumbuh sebagai sosok yang terbiasa tidak dianggap. Tidak diprioritaskan. Tidak diharapkan. Barangkali sejak kecil ia sudah akrab dengan tatapan meremehkan dan bisik-bisik yang tak ramah.
Namun Rasulullah SAW melihat sesuatu yang tak dilihat manusia. Di balik tubuh yang dianggap “tak layak”, ada hati yang jujur, iman yang tulus, dan keberanian yang sunyi. Rasulullah SAW tidak sekadar menerima Julaibib sebagai umat, tetapi memeluknya sebagai manusia seutuhnya. Di tengah masyarakat yang membangun jarak, Rasulullah SAW justru mendekat.
Suatu hari, Rasulullah SAW bertanya kepada Julaibib dengan nada lembut namun menggugah, “Wahai Julaibib, tidakkah engkau ingin menikah?” Pertanyaan itu bukan basa-basi. Ia adalah bentuk perhatian yang sangat personal. Julaibib menjawab dengan jujur, mungkin juga getir, “Siapakah yang mau menikahkan putrinya dengan aku, wahai Rasulullah?” Sebuah kalimat pendek yang menyimpan luka panjang. Ia tahu betul posisinya di mata manusia.
Namun Rasulullah SAW tidak berhenti di sana. Beliau justru mendatangi seorang sahabat Anshar dan meminang putrinya untuk Julaibib. Sang ayah dan ibu awalnya terkejut, bahkan berat menerima. Bukankah Julaibib bukan siapa-siapa? Bukan bangsawan, bukan orang kaya, bukan lelaki yang bisa dibanggakan? Namun sang putri, seorang perempuan beriman, berkata dengan keyakinan yang mengguncang standar dunia: “Jika Rasulullah yang menghendakinya, maka aku ridha.”
Maka menikahlah Julaibib. Lelaki yang selama hidupnya tak pernah menjadi pilihan, tiba-tiba menjadi takdir terbaik bagi seorang perempuan salehah. Rumah tangga itu bukan dibangun di atas harta atau rupa, tetapi di atas ridha Allah dan keberanian iman. Sejarah tidak mencatat pesta besar atau mahar mahal. Namun langit mencatatnya sebagai pernikahan yang diberkahi.
Tak lama setelah pernikahan itu, perang pun terjadi. Julaibib ikut berangkat. Ia tidak meminta dispensasi sebagai pengantin baru. Ia tidak mencari alasan untuk tinggal. Ia berangkat dengan keberanian yang lahir dari iman, bukan dari keinginan untuk dipuji. Di medan perang, Julaibib bertempur dengan gagah berani hingga akhirnya gugur sebagai syahid Julaibib gugur dalam pertempuran setelah berhasil membunuh tujuh musuh, menjadikannya salah satu sahabat yang sangat kehilangan bagi Nabi SAW
Setelah perang usai, Rasulullah SAW mencari-cari Julaibib. Beliau bertanya, “Apakah kalian kehilangan seseorang?” Para sahabat menyebut beberapa nama, tetapi tak ada yang menyebut Julaibib. Rasulullah SAW bersabda dengan suara yang menggetarkan, “Aku kehilangan Julaibib.” Betapa kalimat itu menghancurkan kesombongan manusia. Lelaki yang nyaris tak dicari manusia, justru dicari oleh Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW pun menemukan jasad Julaibib. Beliau mendekap tubuhnya, meletakkannya di atas kedua paha beliau, seraya bersabda, “Ia dariku, dan aku darinya.” Kalimat ini bukan sekadar pujian. Ia adalah pengangkatan derajat. Ia adalah pengumuman langit bahwa ukuran kemuliaan bukanlah rupa, bukan nasab, bukan harta, melainkan iman dan ketulusan.
Bayangkan, seorang lelaki yang semasa hidupnya jarang dipeluk manusia, justru dipeluk oleh manusia paling mulia yang pernah berjalan di muka bumi. Rasulullah SAW sendiri yang mengantarkannya menuju pemakaman. Tidak ada gelar, tidak ada karangan bunga, tetapi ada pelukan Nabi yang mengabadikannya dalam sejarah.
Kisah Julaibib adalah tamparan keras bagi zaman yang terobsesi dengan citra. Ia mengingatkan kita bahwa Allah tidak menilai dari apa yang kita pamerkan, tetapi dari apa yang kita sembunyikan di dalam hati. Julaibib mengajarkan bahwa merasa “tidak layak” di mata manusia bukan berarti tidak berharga di sisi Allah.
Bagi mereka yang sering merasa tersisih, merasa tidak cukup cantik, tidak cukup pintar, tidak cukup kaya, kisah Julaibib adalah pelukan tak terlihat. Ia berkata tanpa suara: engkau mungkin tak diinginkan dunia, tetapi bisa sangat dicintai langit. Dan jika Rasulullah SAW saja memeluk Julaibib, maka siapa kita hingga berani meremehkan siapa pun?
Di akhir kisah ini, Julaibib tidak meninggalkan istana, tidak meninggalkan keturunan terkenal, tidak meninggalkan karya monumental. Ia hanya meninggalkan satu warisan besar: bukti bahwa kemuliaan sejati tidak pernah tunduk pada standar manusia. Ia lahir sebagai sosok yang diabaikan, tetapi wafat sebagai manusia yang diakui Rasulullah SAW. Dan bukankah itu puncak kemuliaan yang paling agung?
Sumber : Mi’raj News Agency (MINA)






